Begini Skema Pembuangan Sampah yang Dilakukan Pemkot Cimahi ke TPA Sarimukti Sekarang

Mengikuti kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemkot Cimahi yang menjadi langganan membuang sampah ke TPA Sarimukti harus membuat skema pembuangan sampah baru.

Begini Skema Pembuangan Sampah yang Dilakukan Pemkot Cimahi ke TPA Sarimukti Sekarang
Pemberlakuan skema pembuangan sampah yang dilakukan Pemkot Cimahi juga mengikuti keputusan Pemprov Jabar dengan membatasi pengiriman sampah hanya 143 ton atau 46 rit per hari ke TPA Sarimukti.  (agus satia negara)

INILAHKORAN, Cimahi - Mengikuti kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemkot Cimahi yang menjadi langganan membuang sampah ke TPA Sarimukti harus membuat skema pembuangan sampah baru.

Pemberlakuan skema pembuangan sampah yang dilakukan Pemkot Cimahi juga mengikuti keputusan Pemprov Jabar dengan membatasi pengiriman sampah hanya 143 ton atau 46 rit per hari ke TPA Sarimukti. 

Tak hanya Cimahi, skema pembuangan sampah dari daerah lain pun dibatasai ke TPA Sarimukti. Kota Bandung dibatasi 868 ton atau 201 rit per hari, Kabupaten Bandung maksimal 257 ton atau 86 rit per hari, dan Kabupaten Bandung Barat maksimal 92 ton atau 32 rit per hari.

"Hal itu telah menjadi ketentuan yang harus kami ikuti. Namun, kami tidak terlalu mempermasalahkan karena sekarang memang pengiriman sampah dari Cimahi ke TPA Sarimukti berkurang," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Chanifah Listyarini belum lama ini.

Berdasarkan data terbaru gunungan sampah, sebut Chanifah, Kota Cimahi bisa menghasilkan sampah sekitar 224 ton setiap harinya.

"Untuk yang dibuang ke TPA Sarimukti tahun ini rata-rata sekitar 157 ton atau 43 rit setiap harinya," sebutnya.

Sedangkan untuk sisanya, terang Chanifah, didaur ulang di sejumlah titik pengolahan seperti di Bank Samici, Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) dan berbagai tempat pengolahan sampah lainnya.

Termasuk, melalui proses maggotisasi beberapa titik di Kota Cimahi.

"Kami sekarang tinggal berupaya supaya sampah yang dikirim ke TPA Sarimukti itu tidak melebihi kuota," terangnya.

"Sekarang saja kan rata-rata sudah dibawah 46 rit walaupun datanya setiap hari fluktuatif," sambungnya.

Chanifah menilai, sejak adanya pembatasan di TPA Sarimukti yang rencananya dimulai pada 14 Agustus mendatang, pihaknya dari jauh-jauh hari sudah memulai program pengurangan sampah sejak dari hulunya. 

"Baik itu dari tingkat rumah tangga maupun di berbagai titik pengolahan sampah," ujarnya.

Apalagi, kata Chanifah, kini di Kota Cimahi sedang dibangun dua tempat pengolahan sampah terpadu yang berada di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. 

Tepatnya di kawasan Lebak Saat yang memiliki kapasitas hingga 10 ton dan di kawasan Santiong dengan kapasitas 40 ton setiap harinya.

"Untuk sampah organiknya di Lebak Saat, sementara di Santiong anorganik," ucapnya.

"Jadi nanti sampah datang di Santiong kemudian kita pilah dan  yang sudah terpilah yang organiknya masuk ke Lebak Saat. Kemudian, mulai bisa beroperasinya April 2023," terangnya.

Meski begitu, Chanifah memastikan pihaknya bakal terus mengoptimalkan berbagai cara agar sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir terus berkurang. 

"Iya harapan akhirnya mudah-mudahan suatu saat ini Cimahi itu zero sampah," ungkapnya.

"Artinya tidak ada lagi sampah yang dibuang ke TPA, tapi semuanya dimanfaatkan dengan berbagai cara," imbuhnya.

Diketahui, Pemerintah pusat melalui KLHK meminta pemerintah daerah yang berada di wilayah se-Bandung Raya untuk membatasi pembuangan sampah sebagai buntut dari sanksi administratif terhadap Tempat Pengolahan Kompos (TPK) Sarimukti di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat.

Sanksi tersebut dikeluarkan KLHK usai melihat adanya pencemaran limbah air lindi di Sungai Ciganas dan Sungai Cipanawuan. Dari sungai tersebut, limbah cair ini mengalir ke Sungai Cipicung dan terus melaju ke Sungai Cimeta hingga masuk ke sungai Citarum.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani