Terjun ke Lokasi Pergerakan Tanah di Rongga, Tim PVMBG Temukan Fakta Ini
Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara langsung melakukan kajian bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong, RT 04/13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara langsung melakukan kajian bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong, RT 04/13, Desa Cibedug, Kecamatan rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Selain meneliti semua titik pergerakan tanah, tim PVMBG juga memusatkan kajian di sekitar SDN Babakan Talang yang terdampak paling parah lantaran bangunan sekolah itu hancur. Bahkan, tanah lapangan di area sekolah pun mengalami retak-retak.
"Dalam kajian tersebut kami ingin memetakan luas area pergerakan tanah, titik bahaya dan mencari faktor atau yang menyebabkan pergerakan tanah itu," kata Penyelidik Bumi dari PVMBG, Yuhandi Kristiawan, Senin 4 Maret 2024.
Yuhandi menyebut, hasil kajian sementara ada beberapa hal yang pihaknya temukan, diantaranya ada perselingan batu pasir dan batu lanau dari karakter batuannya di mana sifatnya lempungan.
"Sifat lempungan itu ketika bertemu air batuannya menjadi bergerak," sebutnya.
Kemudian, sambung Yuhandi, ditambah dengan kemiringan lereng relatif sama dengan kemiringan bantuannya, sehingga menyebabkan pergerakan tanah ini.
"Kondisi tersebut juga dipicu dengan curah hujan yang terjadi beberapa hari lalu," ucapnya.
"Jadi pergerakan tanah ini kalau informasi dari masyarakat terjadi pada 18 Februari 2024 yang awalnya hanya retakan, dia berkembang dan membesar seperti sekarang ini," paparnya.
Surveyor Pemetaan PVMBG, Sumaryono menjelaskan, kalau dilihat secara mekanisme, pemicu pergerakan tanah ini bukan hanya satu faktor saja. Namun, ada interaksi banyak hal dan di bagian bawah ada faktor erosi sungai yang cukup deras.
"Artinya tahanan lereng secara tidak langsung juga dia akan erosi terus, kemudian ada juga memang area yang di atas pembukaan lahan," jelasnya.
"Kemudian aliran air mengarah ke sayap kanan semua seperti pembuangan air dan longsoran," ucapnya.
Faktor lainnya, sambung Sumaryono, ada masalah pada batuan lempungan yang tidak bisa tertolerir dengan air. Lalu, jika terkena sinar matahari menjadi kering dan basah, sehingga hal itu bisa menjadi masalah tersendiri.
"Itu dari internal batuannya, cuma faktor pemicunya jelas infiltrasi air yang berlebihan," sebutnya.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, terang Sumaryono, maka pergerakan tanah tersebut hanya akan terjadi di sekitar lokasi kejadian saja lantaran sudah terbentuk tapal kuda.
"Namun yang dikhawatirkan kalau bergerak terus jadi tipe longsor saja. Kalau rumahnya kemungkinan enggak meluas ya, kemungkinan hanya lokal di situ," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana

