Angka Stunting Capai 2.928 Balita, Pemkot Cimahi Lakukan Intervensi kepada Calon Pengantin
Pemkot Cimahi terus berupaya melakukan intervensi stunting di wilayahnya yang mencapai angka 2.928 balita.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Pemkot Cimahi terus berupaya melakukan intervensi stunting di wilayahnya yang mencapai angka 2.928 balita.
Salah satu upaya yang dilakukan dengan melakukan intervensi stunting yakni melalui pelatihan yang diberikan kepada calon pengantin sebagai upaya preventif kelahiran bayi stunting yang dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi.
"Kasus stunting masih menjadi masalah yang dianggap perlu menjadi prioritas di Kota Cimahi karena terkait dengan kualitas sumber daya manusia generasi penerus bangsa," kata Pj Wali Kota Cimahi Dicky Saromi, belum lama ini.
Dicky menuturkan, Indonesia bakal menghadapi bonus demografi dengan puncak usia produktif 2045 yang ditentukan oleh anak yang lahir tahun ini.
“Oleh karena itu, kita harus menangani persoalan stunting dengan sungguh-sungguh,” tuturnya.
Pasalnya, berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), persentase stunting Kota Cimahi saat ini sebesar 9.35 persen atau sejumlah 2.928 balita dalam kondisi stunting.
"Kalau berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan prevalensi stunting Kota Cimahi sebesar 16,4 persen," ujarnya.
Dicky menyebut, dengan masih banyaknya balita yang berstatus stunting di Kota Cimahi, pihaknya berkomitmen untuk memerangi stunting.
"Komitmen ini diwujudkan dalam tindakan nyata, di antaranya dengan membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebanyak 1.314 orang yang bertugas mendampingi keluarga berisiko stunting yaitu catin, ibu hamil, ibu nifas dan baduta (bayi di bawah dua tahun) di wilayah kerja masing-masing," paparnya.
Lebih jauh Dicky menerangkan, kunci pencegahan dan penanganan stunting adalah dalam 1000 hari pertama kehidupan, sehingga perhatian terhadap ibu hamil dan baduta sangat penting.
"Oleh karena itu pelatihan kepada calon pengantin yang ditindaklanjuti dengan pendampingan kesiapan menikah dan hamil kepada calon pengantin menjadi sangat penting untuk dilakukan," terangnya.
Dicky menyebut, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh calon pengantin, antara lain kesehatan reproduksi, kesehatan keluarga dan cara hidup berkeluarga, serta ekonomi keluarga.
"Pasangan calon pengantin harus memiliki kesehatan lahir dan batin yang baik," sebutnya.
Selain itu, calon pengantin juga wajib memahami soal pola asuh yang tepat untuk mencegah lahirnya anak stunting.
“Upaya penurunan stunting tidak dapat dilakukan secara instan, namun baru dapat terlihat dalam tiga hingga lima tahun ke depan," ujarnya.
Kendati demikian, upaya dalam mengurangi tingkat prevalensi stunting harus menjadi prioritas dan mendapatkan perhatian khusus,” pungkasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani


