Kecewa UMP Jabar 2024 Hanya Naik 3,57 Persen, Buruh KBB Bakal Ambil Tindakan ini
Ditetapkannya upah minimum provinsi (UMP) Jawa Barat (Jabar) 2024 yang hanya naik 3,57 persen menjadi Rp2.057.495 membuat kecewa para buruh, termasuk di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Ditetapkannya upah minimum provinsi (UMP) Jawa Barat (Jabar) 2024 yang hanya naik 3,57 persen menjadi Rp2.057.495 membuat kecewa para Buruh, termasuk di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Ketua PC FSP KEP SPSI KBB, Dadang Ramon menegaskan, penetapan besaran UMP Jabar 2024 yang hanya naik 3,57 persen memang sangat mengecewakan.
"Besaran UMP Jabar 2024 sangat jauh di bawah aspirasi kami yang meminta kenaikan 15 persen," katanya saat dihubungi wartawan.
Dadang menjelaskan, semua serikat pekerja (SP) dan buruh di Bandung Barat telah menyatakan kekecewaannya atas penetapan UMP Jabar 2024. Pasalnya itu bisa jadi acuan dalam penetapan UMK di kabupaten/kota se-Jawa Barat.
"Kenaikan yang hanya 3,57 persen itu tidak seimbang dengan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas)," jelasnya.
Bahkan, sambung Dadang, harga beras yang menjadi kebutuhan paling pokok sudah mencapai Rp 17.000 per kilogram.
"Belum lagi bahan pokok lainnya yang juga naik gila-gilaan," ucapnya.
Dadang menuturkan, berdasarkan hasil informasi dari sejumlah daerah, UMP Jabar 2024 jauh di bawah UMP Provinsi Maluku Utara yang naik sebesar 7,50 persen atau Rp221.646,57.
Kemudian, sambung Dadang, UMP Jawa Timur 2024 naik sebesar Rp 125.000 atau 6,13 persen.Disusul UMP Kalimantan Selatan 2024 ini naik 4,22 persen atau Rp132.834.
"Rencananya seluruh pimpinan SP se-KBB akan mengadakan pertemuan untuk membahas penetapan UMP Jabar 2024. Sekaligus mengagendakan aksi unjuk rasa besar-besaran," tuturnya.
Dadang pun bakal mengusulkan aksi unjuk rasa secara besar-besaran ke Pemkab Bandung Barat. Rencananya demo akan digelar paling lambat pekan depan.
"Tuntutannya untuk all out memperjuangkan kenaikan UMP sebesar 15 persen sekaligus pula memperjuangkan kenaikan UMK KBB, sebesar 15 persen," ujarnya.
Seperti diketahui UMK KBB 2023 sebesar Rp 3.480.759,40 naik sebesar 7,16 persen atau Rp 232.512,12 dari UMK 2022 Rp 3.248.283,26. Pada saat itu buruh juga kecewa karena penetapan UMK tersebut jauh dari rekomendasi Pemda KBB sebesar 27 persen.
"Kami tetap menuntut kenaikan UMK tahun depan naik 15 persen, mengacu kepada kenaikan bahan-bahan pokok sehari-hari," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana

