Tanggapi Fenomena Artis Nyaleg, Begini Kata Pakar Politik
Maraknya artis yang merapat ke berbagai partai politik kian menjadi tren dan memberikan warna tersendiri bagi dunia politik di tanah air.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Maraknya artis yang merapat ke berbagai partai politik kian menjadi tren dan memberikan warna tersendiri bagi dunia politik di tanah air.
Kendati demikian, kehadiran mereka di panggung politik di Indonesia masih dipertanyakan dan diragukan publik, mengingat selama ini eksistensi mereka lebih banyak di dunia seni peran.
Salah satunya yang kini tengah menjadi sorotan sejumlah pihak termasuk pengamat politik yakni Denny Cagur. Komedian yang dikenal dari grup lawak cagur ini kini mengepakan sayap di sejumlah parpol ternama.
Memiliki nama lengkap Denny Wahyudi, pria kelahiran 29 Agustus 1977 itu sempat bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 2020 silam.
Namun, pada tahun 2023 ini, Denny Cagur keluar dari PAN dan berlabuh di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai bakal calon legislatif (Bacaleg) anggota DPR Dapil Jabar 2 yang meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).
"Fenomena artis yang bergabung Parpol untuk menjadi anggota legislatif maupun kepala daerah merupakan hal yang normal terjadi," ujar pengamat politik Unpad Muradi kepada wartawan belum lama ini.
Meski begitu, Muradi menilai ada sejumlah persoalan kaitan dengan effort partai politik. Pertama, Parpol tidak melakukan fungsi kaderisasi dengan baik sehingga tidak muncul nama baru yang berasal dari kadernya sendiri.
"Kedua, Parpol tidak memiliki tindakan untuk melakukan sosialisasi terkait dengan ide program dan sebagainya sehingga, orang memilih yang artis bukan karena Parpol tetapi karena popularitasnya," paparnya.
Ketiga, terang Muradi, menyangkut kemampuan publik dalam menyerap apa yang menjadi bagian penting dari politik itu sendiri," ujarnya.
Muradi mencontohkan, saat ini masyarakat dihadapkan pada dua dilema, kader yang mumpuni serta memiliki kemampuan politik yang baik dengan artis yang tidak mengerti apa-apa.
Menurutnya, ada kemungkinan masyarakat memilih calon yang memiliki kemampuan untuk menangkap pesan dan memiliki kemampuan berpolitik yang baik.
"Ini yang kemudian kemunculan para artis di kancah politik menjadi permasalahan baru," tuturnya.
Muradi menyebut, kapasitas dan elektabilitas artis di kancah politik bakal terlihat saat artis seperti Denny Cagur terpilih. Sebab, bila mengandalkan popularitas, Denny Cagur sudah memiliki modal tersebut.
"Untuk peta dipilih itu kan dua langkah, popularitas dan elektabilitas baru dipilih, tapi artis itu populer namun belum tentu dipilih," paparnya.
"Nanti kemampuan publik menangkap pesan bahwa orang-orang ini dianggap mampu atau tidak," sambungnya.
Lebih lanjut Muradi menuturkan, dilema masyarakat dalam menentukan pilihan terhadap Caleg dari kalangan artis pernah terjadi pada saat Muhammad Farhan, Niko Siahaan, Nurul Arifin, Desi Ratnasari, serta artis lainnya ikut dalam kontestasi Pemilu dan berhasil.
Hal itu lantaran mereka memiliki kemampuan politik yang baik tetapi sebagian besar artis gagal terpilih karena tidak mengerti apa-apa dalam bidang politik.
"Jadi kalau ada artis maju, yang bersangkutan harus bisa cepat menyesuaikan diri menjadi wakil rakyat yang baik," paparnya.
"Soal kemampuan, yang bersangkutan mau belajar atau tidak untuk bisa menjadi wakil rakyat yang baik karena posisi artis itu sudah menang satu langkah, sudah populer. Tapi untuk dipilih akan ada diskusi panjang, apakah akan terpilih atau tidak," pungkasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani

