Tinggalkan Gedung Islamic Center, Warga Terdampak Pergerakan Tanah di Rongga Memilih Berpuasa di Rumah Kerabat

Warga Kampung Cigombong, RT 04/RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terdampak bencana pergerakan tanah memilih untuk menjalani ibadah puasa Ramadan tidak dipengungsian

Tinggalkan Gedung Islamic Center, Warga Terdampak Pergerakan Tanah di Rongga Memilih Berpuasa di Rumah Kerabat
Warga Kampung Cigombong, RT 04/RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terdampak bencana pergerakan tanah memilih untuk menjalani ibadah puasa Ramadan tidak di tempat pengungsian.

INILAHKORAN, Ngamprah - Warga Kampung Cigombong, RT 04/RW 13, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terdampak bencana pergerakan tanah memilih untuk menjalani ibadah puasa Ramadan tidak di tempat pengungsian.

Berdasarkan informasi, warga meninggalkan gedung Islamic Center yang selama ini dijadikan lokasi pengungsian sebelum bulan Ramadhan.

"Sebelum puasa warga sudah meninggalkan gedung Islamic Center," kata Kepala Desa Cibedug, Engkus Kustendi saat dihubungi.

"Sekarang sudah tak ada lagi warga yang tinggal di lokasi pengungsian," sambungnya.

Engkus menjelaskan, sebagian korban pergerakan tanah lwbih memilih tinggal untuk sementara di rumah kerabatnya dan rumah kontrakan. Kendati demikian, belum diketahui secara pasti apakah hanya sebulan tinggal bersama kerabatnya dan rumah kontrakan atau lebih dari satu bulan.

"Yang jelas mereka ingin selama Ramadan tak tinggal di lokasi pengungsian," jelasnya.

"Tapi apakah setelah Idulfitri mereka akan melanjutkan tinggal di rumah saudaranya atau memperpanjang kontrakan rumah atau kembali ke tempat pengungsian di gedung Islamic Center. Keputusan dikembalikan kepada warga sendiri," terangnya.

Menurutnya, para korban bencana pergerakan tanah memilih tinggal di rumah kontrakan karena dibayarkan oleh pemerintah dengan besaran uang kontrakan  Rp 500 ribu/KK/bulan.

"Ada yang nalangin dulu, nanti setelah cair dari pemerintah diganti. Sesuai kesepakatan dengan pemilik kontrakan, pertengahan bulan akan dibayarkan," tuturnya.

"Nah, apakah warga akan tinggal di rumah kontrakan seterusnya sampai terbangun rumah baru di lahan relokasi," imbuhnya.

Engkus menyebut, sumber anggaran untuk kontrakan rumah berasal dari  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pos Dana Tunggu Hunian (DTH) dengan besarannya Rp 500 ribu per bulan sampai terbangun tempat tinggal baru.

Kendati sudah tidak lagi tinggal di lokasi pengungsian, namun berbagai bantuan yang masih tersisa tetap didistribusikan oleh para relawan kepada warga korban pergerakan tanah.

"Setiap hari relawan mengantarkan batuan ke setiap warga, baik yang tinggal di rumah saudaranya maupun rumah kontrakan. Selama masih ada terus akan kita distribusikan," tandasnya.

Terkait dengan usulan beberapa tempat relokasi, Engkus menyebut warga lebih memilih lahan Perkebunan PTPN VIII yang berada di Kampung Ciceuri RT 01/RW 09, Desa Cibedug.

"Dulunya bekas kebun teh yang sudah lama tak berproduksi. Luasannya sekitar 2 hektare dan lokasinya sangat strategis karena berada di pinggir Jalan Raya Rongga. Di sana pun dekat dengan perkampungan penduduk," terangnya.

Diketahui, ada 48 kepala keluarga (KK) atau 192 jiwa yang diungsikan ke Gedung Islamic Center. Pasalnya, rumah mereka  rusak berat dan terdampak bencana pergerakan tanah yang mulai terjadi 19 Februari 2024.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti