Antisipasi Keracunan Ciki Ngebul, Dinkes KBB Bakal Lakukan Uji Laboratorium
Kasus keracunan yang menimpa anak-anak di dKabupaten Tasikmalaya akibat mengonsumsi ciki ngebul dikhawatirkan berbagai pihak di KBB.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kasus keracunan yang menimpa anak-anak di dKabupaten Tasikmalaya akibat mengonsumsi ciki ngebul dikhawatirkan berbagai pihak di KBB.
Pasalnya, dari sejumlah anak yang menjadi korban makanan ciki ngebul itu satu orang diantaranya harus dirawat ke rumah sakit lantaran mengalami perforasi atau adanya lubang di saluran cerna sehingga membutuhkan operasi.
Selain itu, jajanan ciki ngebul tersebut tidak hanya dijual di Kabupaten Tasikmalaya, melainkan telah menjamur di berbagai daerah. Termasuk, di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Menyikapi hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB bakal segera melakukan uji laboratorium terkait jajanan ciki ngebul untuk mencegah terjadinya keracunan pada anak-anak di wilayahnya.
"Kita akan menerjunkan bagian farmasi makanan dan minuman untuk mengambil sampel acak dari para pedagang ciki ngebul di beberapa wilayah di Bandung Barat," kata Kepala Dinas Kesehatan KBB, Hernawan Wijayanto saat dihubungi, Selasa 10 Januari 2023.
Seperti diketahui, sejumlah kasus keracunan akibat makanan ciki ngebul telah dilaporkan Kementerian Kesehatan.
Terbaru, temuan Dinkes Provinsi Jawa Barat, ada 28 anak di wilayah Tasikmalaya dan Kota Bekasi yang dilaporkan keracunan setelah memakan ciki ngebul.
Merespons kasus keracunan tersebut, Kemenkes menerbitkan surat edaran Nomor SR:01.07/111.5/67/2023 tertanggal 3 Januari 2023, perihal Kedaruratan Medis dalam Penggunaan Nitrogen Cair pada Makanan.
"Secara khusus kita belum menerbitkan turunkan dari aturan ini," ujarnya.
Kendati demikian, lanjut dia, pihaknya mengimbau seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk melapor apabila mengetahui ada temuan kasus keracunan makanan ciki ngebul. Menurutnya, dalam makanan itu kandungan paling berbahaya yakni nitrogen cair.
"Zat tersebut diduga jadi pemicu gangguan pernafasan dan pencernaan. Tapi sampai saat ini untuk di Bandung Barat belum ada laporan kasus keracunan," pungkasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani
