Bermodalkan Kertas Nasi dan Kertas Roti, Dua Warga Kota Bandung Produksi dan Edarkan Uang Palsu di Cimahi dan KBB
Satreskrim Polres Cimahi meringkus dua warga Kota Bandung orang pembuat dan pengedar uang palsu di Cimahi dan KBB sebagai wilayah hukum Polres Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Satreskrim Polres Cimahi meringkus dua warga Kota Bandung orang pembuat dan pengedar uang palsu di Cimahi dan KBB sebagai wilayah hukum Polres Cimahi.
Tersangka dua warga Kota Bandung itu yakni FC (24) warga Jalan Sumbersari, Kecamatan Cisaranten Kulon, Kota Bandung dan MR (25) warga Jalan Cijawura Hilir, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung. Mereka diketahui memproduksi uang palsu sekaligus mengedarkan ke Cimahi dan KBB.
Pelaku yang notabene dua warga Kota Bandung itu ditangkap di rumah produksi uang palsu di Komplek Permata, Blok G No 20, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu 24 September 2022 sekitar pukul 03.00 WIB.
Wakapolres Cimahi Kompol Niko N Adi Putra mengatakan, pihaknya telah mengamankan dua orang tersangka yang diketahui memalsukan, menyimpan dan mengedarkan uang rupiah yang sengaja dipalsukan.
"Saat ini Satreskrim Polres Cimahi masih melakukan penyidikan terhadap kasus pemalsuan uang tersebut dan kedua pelaku sudah diamankan," katanya dalam gelar perkara di Mapolres Cimahi, Senin 26 September 2022.
Ia menyebut, barang bukti yang berhasil diamankan, antara lain satu unit laptop merek ROG, satu unit printer, dua buah handphone, material bahan baku pembuatan uang palsu, seperti kertas nasi dan kertas roti dan catokan rambut yang digunakan untuk menyatukan lembaran uang.
"Kedua tersangka sudah melakukan praktek pembuatan uang palsu selama 2-3 bulan dengan keuntungan bervariatif," sebutnya.
Ia menuturkan, per minggu omzet pencetakan uang palsu ini bisa mencapai Rp5-10 juta rupiah untuk pecahan Rp50-100 ribu.
"Untuk peredarannya kedua pelaku melakukan pembelian barang atau rokok di warung-warung kecil atau kelontong dengan wilayah edar Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat," tuturnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, terungkapnya kasus uang palsu ini berdasarkan hasil penyelidikan, karena seperti diketahui bahwa mata uang baru mulai beredar dan telah diumumkan dan disosialisasikan Bank Indonesia (BI).
"Hanya mungkin ada sejumlah masyarakat yang masih awam kaitan dengan adanya uang baru tersebut," jelasnya.
"Nah kedua tersangka ini memanfaatkan kesempatan itu untuk memalsukan pecahan uang baru tersebut karena belum banyak pembanding mata uang serupa dari mata uang baru tersebut," sambungnya.
Ia menyebut, kebanyakan yang menjadi korban kedua tersangka merupakan kios atau warung-warung kecil.
"Akibat dari aksi pemalsuan dan peredaran uang tersebut, kedua pelaku disangkakan Pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 Undang-Undang (UU) RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman kurang lebih 15 tahun pidana penjara," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani

