Dinkes Jabar Minta Masyarakat Terapkan Prokes, Antisipasi Penularan Cacar Monyet
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi meminta masyarakat untuk kembali menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, guna mengantisipasi penularan Monkeypox.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi meminta masyarakat untuk kembali menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, guna mengantisipasi penularan Monkeypox.
Mengingat kasus cacar monyet atau Monkeypox kata Vini sudah masuk ke Kota Bandung, setelah satu orang dinyatakan positif dan telah mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS).
Dimana kini tengah dilakukan pelacakan kontak erat, untuk mencegah penularan. Maka dari itu dia meminta, prokes harus dijalani guna meminimalisir persebaran.
"Surat Edaran kewaspadaan Monkeypox sudah disebarkan sejak 18 Oktober. Terus kami juga sudah melakukan sosialisasi ke Puskesmas, klinik sebagai antisipasi. Jadi prokes sudah harus mulai diterapkan. Menjaga jarak, pakai masker untuk mencegah penularan," ujar Vini pada INILAHKORAN, Senin 30 Oktober 2023 malam lalu.
Mengingat sambung dia, Mpox atau Monkeypox mudah ditularkan, baik melalui kontak langsung maupun droplet cairan dari penderita. Khususnya bagi manusia yang memiliki imunitas rendah, diakuinya lebih riskan tertular virus tersebut.
"Paling penting mencegah. Semua punya potensi tertular, sama kayak cacar air. Cuma penularannya bisa berbagai macam, jadi kita harus waspada khawatir akan terjadi penularan. Sebetulnya dengan menjaga daya tahan tubuh yang baik, cuci tangan, memakai masker itu sudah antisipasi kita dan tidak berkontak dengan orang sakit. Orang sakit lebih baik diam dirumah dan pakai masker," ucapnya.
Sementara Ketua Tim Infeksi Khusus RSHS dr Yovita Hartantri menuturkan, kasus Mpox di Kota Bandung merupakan pasien laki-laki berusia 36 tahun. Sejauh ini diakuinya pasien tersebut terbilang stabil dan tidak ada gejala masuk kriteria berat serta gangguan fungsi organ.
"Kami bersama dokter penyakit kulit dan kelamin hanya memberikan obat vertical dan obat simptomatik. (Mpox) mirip dengan cacar air. Hanya Mpox muncul perlahan. Bisa makan waktu dua minggu," tuturnya.
Terlepas dari itu, dia meminta masyarakat agar tidak panik akan penyakit ini. Meski bagi anak, ibu hamil dan penderita HIV/AIDS harus lebih meningkatkan kewaspadaan karena lebih berisiko tertular. Pada prinsipnya sambung dia, menjaga kesehatan dengan penerapan prokes menjadi paling utama guna mencegah persebaran virus tersebut di Jawa Barat.
"Jangan panik. Di kasus Mpox tidak terlalu mudah untuk menularkan, kalau kita menggunakan sarung tangan, cuci tangan. penularan ini tidak gampang, tidak serta-merta tertular asal cuci tangan. Lalu jangan lupa menggunakan masker itu yang kita lakukan bila ada pasien yang terduga mirip Mpox," tandasnya. (Yuliantono)***
Editor : JakaPermana

