Menelisik Sejarah Singkat dan Ritual Sesajen Pembangunan Terowongan Sasaksaat di Cipatat KBB

Salah satu yang menarik untuk dieksplor, yakni terowongan kereta api Sasaksaat yang berlokasi di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Menelisik Sejarah Singkat dan Ritual Sesajen Pembangunan Terowongan Sasaksaat di Cipatat KBB
Tak hanya itu, terowongan kereta api Sasaksaat ini ternyata membelah perbukitan Cidepong yang terletak antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat di km 143+144. (tangkapan layar)

INILAHKORAN, Ngamprah - Hadirnya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang telah ditetapkan sebagai salah satu proyek strategis nasional disebut-sebut menjadi tonggak awal kemajuan perkembangan dunia perkeretaapian di tanah air.

Memiliki trase sepanjang 142, 3 kilometer, KCJB diharapkan mampu memberikan berbagai kemudahan dan dampak perekonomian yang akan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Meski begitu, tahukah anda perkembangan dan pembangunan perkeretaapian di tanah air di masa lalu penuh dengan nilai-nilai sejarah yang menarik untuk digali.

1. Sejarah Singkat Pembangunan terowongan Sasaksaat

Salah satu yang menarik untuk dieksplor, yakni terowongan kereta api Sasaksaat yang berlokasi di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Tak hanya itu, terowongan kereta api Sasaksaat ini ternyata membelah perbukitan Cidepong yang terletak antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat di km 143+144.

2. Ritual Sesajen Tradisional

Dilansir dari heritage.kai.id, hingga saat ini, terowongan Sasaksaat yang dibangun mulai tahun 1902 Perusahaan Kereta Api Negara, Staatssporwegen (SS) dengan panjang 949 meter tersebut menjadi terowongan aktif terpanjang di Indonesia.

Namun, ada hal yang menarik dalam tahap awal pembangunan terowongan Sasaksaat ini, di mana ada ritual upacara yang dilakukan masyarakat, yakni dengan menyuguhkan sesajen tradisional dengan tujuan untuk meminta keselamatan agar tidak terhadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses pembangunan berlangsung.

Adanya ritual sesajen tradisional tersebut tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat sekitar berkaitan dengan gunung yang dijadikan tempat pembutan terowongan yang diyakini terdapat makhluk halus yang 'menguasainya'.

3. Kendala Pembangunan

Dalam prosesnya, pembangunan terowongan Sasaksaat yang dipercayakan kepada pemborong khusus orang Eropa pun sempat menghadapi kendala.

Kendati menggunakan teknologi tinggi dari Belgia, para pemborong dari Eropa tersebut harus menghadapi kendala berupa lahan yang memiliki kadar air tinggi, sehingga air merembes ke terowongan dan beresiko terjadi longsor.

Selain kadar air tinggi, mereka pun terkendala adanya batuan cadas pada tanah yang digali.

Tak kehabisan cara, guna menanggulangi rembesan air, bagian atas terowongan mereka lapisi dengan penyemenan tebal 0,85 meter. Bahkan, di beberapa bagian terowongan pun dilapisi dengan seng.

Sedangkan untuk menghancurkan batuan cadas, mereka lakukan dengan cara pengeboran menggunakan tangan guna menghindari getaran.

4. Dibangun Siang Malam dan Melibatkan Pribumi sebagai Kuli

Agar bisa segera beroperasi, pembangunan terowongan Sasaksaat dibangun siang dan malam yang dilakukan melibatkan tenaga kerja, seperti orang pribumi, Cina hingga Eropa.

Namun, kebanyakan orang pribumi dan Cina hanya bekerja sebagai kuli. Sedangkan orang Eropa memiliki kedudukan sebagai kepala cabang, mandor pekerja, pemborong dan teknisi.

Sementara, dari sisi teknis pengerjaan pembangunan terowongan dilakukan dengan cara menggali di bagian sisi arah selatan dan utara secara bersamaan.

5. Pengoperasian Awal

Memasuki awal pengoperasian, terowongan yang berada di koridor Purwakarta-Padalarang tersebut digunakan sebagai sarana penumpang.

Selain itu, juga beroperasi untuk pengangkutan komoditas ekspor seperti kopi, teh, beras serta pengangkutan hasil pertanian sehari-hari masyarakat di Bandung.

Saat ini, terowongan Sasaksaat berada di bawah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung dilewati kereta api jarak jauh seperti Argo Parahyangan, Harina, Ciremai, Serayu, kereta api lokal Cibatu-Purwakarta dan kereta angkutan barang.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani