Ungkap Dampak Penebangan Pohon Secara Ilegal, DLH Cimahi: Selain Bencana, Ekosistem Lingkungan Rusak
Maraknya praktik penebangan pohon secara ilegal menjadi salah satu faktor pemicu bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Kota Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Maraknya praktik penebangan pohon secara ilegal menjadi salah satu faktor pemicu bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Kota Cimahi.
Persoalan tersebut saat ini tengah menjadi fokus Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi lantaran dampak akibat penebangan pohon secara ilegal tidak hanya pada lingkungan, namun juga merupakan perbuatan melanggar hukum.
Hal itu tertuang dalam Pasal 83 Ayat 1 Huruf b, Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman pidana penjara maksimum 15 tahun dan denda maksimum Rp 100 miliar.
Sementara itu, DLH Kota Cimahi berupaya menjaga lingkungan dengan menerapkan Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Tata Cara Pemberian Izin Penebangan Pohon dan Pemangkasan Pohon Pada Lahan Pemerintah Daerah Kota Cimahi.
"Kami berkolaborasi dengan Satpol PP untuk menegakkan Perda tentang penebangan ilegal," kata Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Cimahi, Agus Irwan kepada wartawan belum lama ini.
Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk mengendalikan praktik penebangan ilegal dan memastikan keberlanjutan lingkungan di Kota Cimahi.
Bahkan, tindakan antisipatif terhadap potensi bencana alam, seperti longsor di beberapa wilayah Kota Cimahi telah diupayakan.
"DLH melalui seksi Konservasi Lingkungan Bidang Tata Lingkungan telah menggelar kegiatan penanaman pohon di area milik Kota Cimahi," tuturnya.
Selain itu, sambung Agus, pihaknya pun telah membangun beberapa ruang terbuka hijau (RTH) di sejumlah titik di wilayah Kota Cimahi. Seperti RTH RW 08 Cibeber, RTH RW 21 Cipageran, RTH RW 12 dan Taman Kehati.
"RTH tersebut dibangun sepanjang jalan wilayah tersebut dengan tujuan untuk mengurangi genangan air dan meningkatkan penyerapan air. Sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko longsor di wilayah tersebut dan daerah sekitarnya," paparnya.
Pihaknya pun berencana menyiapkan program untuk mencegah bencana alam seperti longsor dengan menjaga kelestarian lingkungan yang diberinama Gerakan Makan Buah Segar untuk menambah Luasan Konservasi (Gema Bugar Tu Konser).
"Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dengan melaksanakan kegiatan pembibitan buah secara mandiri. Lalu, bibit tersebut akan ditanam pada kegiatan Gebyar penanaman pohon tiap triwulan," paparnya.
Agus pun mengingatkan kepada masyarakat agar tidak menebang pohon secara sembarangan. Termasuk, mengubah fungsi lahan pertanian.
Agus memberikan himbauan kepada masyarakat agar menghentikan tindakan seperti menebang pohon secara sembarangan atau mengubah fungsi lahan pertanian.
"Karena hal itu jelas dapat membuat ekosistem lingkungan rusak," tegasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti

